Menulis Ideology
Beberapa orang memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan isi pikirannya dengan menulis. Bagi saya, apapun yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, itu adalah suatu representasi dari ucapan seorang filsuf ‘Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani’.
Terlepas dari cara yang ditempuh masing-masing orang dalam merefleksikan hidup, saya kira menulis merupakan cara yang universal, cara yang bisa di bilang hampir bisa dilakukan semua orang. Pertanyaannya adalah, maukah kita menulis?
Siapa tak kenal dengan Taufiq Ismail. Seorang penyair kawakan dalam jagad sastra Indonesia. Meski karya-karyanya tak se-kontroversial karya2 Rendra, Wiji Thukul, maupun Emha –sekedar menyebut beberapa nama-, saya kira nama Taufiq Ismail patut di catat sebagai sosok yang ‘pantas menjalani hidupnya’.
Kalau Rendra menggugat penyair di jamannya yang hanya ‘sekedar’ menulis dengan menyebutnya sebagai ‘penyair salon’; maka Taufiq Ismail mengejek sineas-sineas muda -dengan film-film antimanfaat mereka- dengan sebutan ‘anak-anak ABG yang punya kelainan instrument mata’.
Dalam puisi berjudul ‘Tebing Tak Tampak, Jurang Tak Tampak’, Taufiq dengan gamblang dan lugas menyuarakan kegelisahannya tentang sineas-sineas muda yang dia nilai kebablasan. Kebablasan mengartikan kebebasan dan seni.
Dan Taufiq, saya kira telah merefleksikan hidupnya, berupa kegelisahan, yang pantas untuk kita renungkan. Sebuah kegelisahan yang mestinya menjadi kegelisahan kita bersama. Dia telah menulis dengan indah. Merefleksi dengan penuh makna. Hidupnya. Hidup yang dia jalani.
Di sisi ini, mungkin apa yang dia tulis tak mampu mengubah dunia. Atau minimal belum. Tapi apa yang dia lakukan minimal telah meninggalkan benih-benih bintang yang kelak mungkin akan bersinar. Meninggalkan sejuta harap bagi anak-anak bangsa yang merindukan hidup yang ‘hidup’. Hidup yang direfleksikan.
Selain nama-nama di atas, banyak sekali orang yang memilih merefleksi hidup ini dengan menulis. Menulis ideology mereka. Cara mereka menyikapi ingar bingar dunia dan segala romantisme yang ada. Mereka sadar, dunia tak akan berubah begitu saja. Namun setidaknya, mereka dengan bijak telah mengambil sikap. Seringkali tulisan-tulisan mereka justru bergema jauh hari setelah mereka tiada. Pramoedya pernah dipenjara dan karya-karyanya dilarang beredar. Wiji Thukul bahkan tak diketahui rimbanya sampai sekarang. Tapi karya-karya mereka, adalah benih-benih bintang. Karya mereka adalah benih harapan. Bukan untuk kita. Tapi untuk anak-anak kita. Untuk generasi setelah kita. Generasi yang memang layak untuk mendapatkan lebih dari apa yang kita dapatkan. Dan kita bisa dengan bangga, menjalani hidup yang memang pantas untuk dijalani.
Nietzsche pernah bilang ‘Silence is worse; all truths that are kept silent becomes poisonous.’. Ya, mestinya kita bisa bicara tentang apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Bukan apa-apa. Hanya agar ‘yang binasa juga binasa dengan keterangan yang jelas, dan orang yang hidup pun hidup dengan keterangan yang jelas’. Tidakkah sebaiknya kita mencoba menyuarakan kebenaran itu walau dengan harapan [dan ketakutan] bahwa kebenaran yang kita yakini itu salah?
Atau kita bisa seperti apa yang ditulis Kierkegaard; ‘I laugh with one face, I weep with the other.’ Dan biarkan dunia berjalan sebagaimana adanya. Seolah tak ada tempat dan ruang untuk kita. Seolah ada atau tidaknya kita tak pernah berarti apa-apa.
Saya sendiri selalu mencoba belajar menulis. Belajar merefleksi dunia di sekitar saya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Alangkah anehnya ketika begitu banyak peristiwa di sekitar kita, begitu banyak angan, impian, dan kenyataan yang berkelebat di sekitar kita, namun kita sama sekali tak berdaya. Tak berbuat apa-apa. Adakah hidup kita pantas untuk dijalani?
Tidak berbuat sesuatu adalah suatu perbuatan pula. Dan setiap perbuatan adalah refleksi dari sebuah kepribadian. Seorang dokter yang tak berbuat apa-apa ketika ada seorang yang sakit. Penduduk kampung yang diam saja sementara seorang diantara mereka mengerang kelaparan. Samakah kita?
Tulis saja. Apa saja. Banyak jalan menuju Roma. Anda bisa mengikuti arus sembari berharap baju anda tetap kering. Atau anda bisa memilih melawan arus. Atau anda bisa keluar dari arus itu. Atau anda bisa berdiri tegak. Tak perlu melakukan apa-apa. Diam saja.
Dan adakah kehidupan yang pantas untuk kita jalani?
http://celotehbayu200687.wordpress.com/2009/04/19/menulis-ideologi/